BOGOR – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Resolusi Mahasiswa Bogor (RMB) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kompleks Pemerintah Kabupaten Bogor, Tegar Beriman, Cibinong, Kamis (5/1/2026).
Aksi tersebut menyoroti rencana pengadaan videotron, mikrofon, dan sistem suara oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Bogor melalui mekanisme Pokok Pikiran (Pokir) DPRD Tahun Anggaran 2026 dengan nilai anggaran berkisar Rp100–120 miliar.
Dalam orasinya, mahasiswa menilai program tersebut tidak memiliki urgensi strategis serta tidak sejalan dengan kebutuhan prioritas daerah.
"Rencana pengadaan videotron, mikrofon, dan sistem suara ini kami nilai tidak memiliki urgensi dan tidak sejalan dengan kebutuhan strategis sektor olahraga maupun kepentingan publik Kabupaten Bogor," kata Ketua RMB, Mahdi.
Menurut Mahdi, persoalan utama bukan semata pada besaran anggaran, melainkan pada penetapan skala prioritas penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Ia menegaskan bahwa Pokir DPRD seharusnya menjadi instrumen penyaluran aspirasi masyarakat yang diterjemahkan ke dalam program berdampak langsung dan rasional.
Namun, RMB menilai penempatan proyek videotron sebagai prioritas justru bertentangan dengan prinsip penganggaran berbasis kebutuhan publik.
Di sektor olahraga, mahasiswa menyoroti masih lemahnya sistem pembinaan atlet, keterbatasan sarana dan prasarana latihan, serta belum optimalnya kesejahteraan atlet daerah. Mereka menilai peningkatan prestasi olahraga tidak dapat dicapai melalui proyek bersifat simbolik, melainkan melalui investasi jangka panjang yang menyentuh ekosistem pembinaan.
Selain sektor olahraga, RMB juga menyoroti kebutuhan mendesak lain seperti penerangan jalan umum di wilayah pelosok, peningkatan infrastruktur pendidikan, serta pemenuhan peralatan puskesmas yang dinilai masih terbatas.
"Kebutuhan penerangan jalan berkorelasi langsung dengan keamanan dan keselamatan masyarakat. Infrastruktur pendidikan dan fasilitas kesehatan adalah fondasi kualitas sumber daya manusia. Urgensinya jauh lebih tinggi dibandingkan pengadaan videotron," tegas Mahdi.

