CIBINONG – Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Kesehatan melakukan penataan ulang sistem pelayanan kesehatan dengan memperkuat peran fasilitas kesehatan tingkat pertama. Kebijakan ini menegaskan bahwa rumah sakit bukan lagi menjadi pintu utama pelayanan, melainkan sebagai rujukan lanjutan bagi kasus yang membutuhkan penanganan spesialis.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty, menjelaskan bahwa transformasi sistem kesehatan difokuskan pada penguatan pelayanan primer agar masyarakat memperoleh layanan optimal di Puskesmas tanpa harus selalu datang ke rumah sakit.
“Penguatan pelayanan kesehatan primer menjadi kunci. Puskesmas harus percaya diri menangani kasus sesuai kewenangannya, dan rumah sakit berperan sebagai rujukan untuk kasus yang memang membutuhkan penanganan lanjutan,” ujar Fusia.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 6 juta jiwa dan wilayah yang luas, Kabupaten Bogor membagi sistem pelayanan ke dalam enam zonasi kesehatan. Setiap zona didukung oleh RSUD sebagai rumah sakit rujukan utama untuk memastikan sistem berjalan lebih terarah dan efisien.
Melalui skema zonasi tersebut, pasien tidak lagi diarahkan lintas wilayah secara tidak perlu. Warga dari wilayah barat, misalnya, akan dirujuk ke rumah sakit terdekat di zonanya apabila memang membutuhkan layanan lanjutan.
“Zonasi ini penting agar pelayanan lebih cepat dan merata. Tidak logis jika pasien dari wilayah barat harus dirujuk jauh, padahal di wilayahnya sudah ada RSUD,” jelasnya.
Saat ini terdapat 101 Puskesmas di Kabupaten Bogor, dengan 37 di antaranya berstatus Puskesmas DTP (rawat inap) yang mampu menangani kasus gawat darurat tertentu, termasuk pelayanan ibu dan bayi. Dinas Kesehatan juga mendorong penguatan jejaring antara Puskesmas dan rumah sakit agar konsultasi medis dapat dilakukan tanpa harus langsung merujuk pasien ke IGD.
Dokter Puskesmas dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis rumah sakit untuk menangani kasus kategori zona hijau hingga kuning.
“Kita ingin Puskesmas tidak sekadar menjadi tempat rujukan administratif, tapi benar-benar menjadi fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menyelesaikan banyak kasus,” ungkap Fusia.

