JAKARTA,– Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memberikan arahan strategis untuk penguatan pendidikan tinggi nasional dalam Taklimat Presiden RI dengan Rektor serta Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Tahun 2026. Pertemuan yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, tersebut menitikberatkan pada tiga isu utama: perluasan akses beasiswa, penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), serta pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan nasional.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, dalam keterangannya usai acara, menyampaikan bahwa forum dialog langsung dengan Presiden Prabowo mendapat apresiasi tinggi dari para rektor dan pimpinan PTN. Mereka bahkan mengusulkan agar forum serupa dapat dilaksanakan secara lebih rutin.
“Ada permohonan dari para rektor dan guru besar agar forum-forum seperti ini bisa lebih dirutinkan kembali,” ujar Mensesneg Prasetyo Hadi kepada awak media.
Perluasan Akses Beasiswa
Dalam taklimat tersebut, Mensesneg melaporkan bahwa jumlah mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi di Indonesia saat ini mencapai sekitar 9,9 juta orang. Namun, dari total tersebut, penerima beasiswa masih terbatas, yakni sekitar 1,1 juta penerima.
Menanggapi disparitas tersebut, Presiden Prabowo mengarahkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kementerian Diktisaintek) bersama Kementerian Sekretariat Negara untuk segera melakukan penghitungan dan perumusan ulang kebijakan. Tujuannya adalah memperluas jumlah penerima beasiswa secara signifikan.
“Bapak Presiden memberikan arahan kepada kami, terutama Mendiktisaintek dan kami sebagai Mensesneg, untuk mencoba menghitung ulang, memformulakan ulang bagaimana memperbesar sebanyak-banyaknya penerima beasiswa,” jelasnya.
Fokus pada STEM dan IPTEK
Selain itu, Presiden Prabowo secara khusus menekankan pentingnya penguatan pendidikan di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Kepala Negara mengarahkan agar alokasi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) lebih difokuskan pada bidang-bidang tersebut.